BERITA & TULISAN
Kategori :


“Mahasiswa pendidikan guru `doyan dagang` gak niat jadi guru!" Siapa Bilang?

19/01/2018     Kemahasiswaan         Administrator


Mahasiswa pendidikan guru selalu dibayangi oleh masa depan sebuah profesi yang kesehariannya mengajar dikelas atau menduduki jabatan disekolah dan berstatus PNS. Jika telah mencapai hal tersebut, barulah mereka dikatakan sukses menjadi guru. Padahal tidak, pergerakan guru tak sesempit itu. Setiap guru mampu mengembangkan pembelajaran secara kreatif melalui berbagai potensi yang dimiliki bahkan melalui kesenangan yang mereka geluti, salah satunya kesenangan berwirausaha, istilah kerennya enterpreneur.

Kesenangan berwirausaha ini tak pula mempersempit pergerakan mereka untuk melulu menjadi guru di pelajaran kewirausahaan. Mereka bisa mengajarkan ilmu dan pengalaman berwirausaha pada siapa saja dan dimana saja, terlebih jiwa wirausaha perlu ditumbuhkan sejak anak usia dini. Sebagaimana dikatakan Mary Mazzio, pembuat film sekaligus seorang pengusaha di Amerika, mengatakan setiap orang memiliki kewajiban untuk menjadi wirausaha. Mazziopun mewawancarai para pengusaha sukses seperti Richard Branson, pemilik Virgin Group, dan Arthur Blank, co-founder The Home Depot. Dalam wawancaranya, satu hal yang paling diingat oleh Mazzio adalah sifat kewirausahaan ini bisa diajarkan pada anak-anak, agar mereka memiliki jiwa wirausaha sejak kecil (http://lifestyle.kompas.com).

Kabar gembiranya rasio wirausaha Indonesia terhitung maret 2017 mengalami kenaikan menjadi 3.01%  dari 252 juta penduduk daripada tahun 2013/2014 yang baru mencapai rasio 1.67%. Namun angka ini masih terbilang kecil jika dibandingkan negara lain seperti Malaysia 5%, China 10%, Singapura 7%, Jepang 11% maupun AS 12% (http://www.depkop.go.id). “Angka 3,01 masih ditargetkan akan mencapai 4 di tahun 2018, “ Ujar Menteri Koperasi dan Unit Usaha Kecil (UKM) Indonesia, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Solo Techno Park 21 Oktober 2017 (http://solo.tribunnews.com).

Mendapati kondisi tersebut guru memiliki andil besar untuk turut menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak didiknya sejak usia dini. Guru yang berwirausaha tentu tidak melupakan dedikasinya sebagai seorang pendidik, begitupun mahasiswa pendidikan guru yang senang berwirausaha tak dapat dilabeli bahwa mereka tidak berniat mengabdi sebagai guru.

Ada banyak guru yang telah sukses mengembangkan wirausahanya, seperti Ipung Tasifun guru SLTA di Bandung. Ipung telah membangun dua perusahaan yang beromzet miliaran rupiah per tahun. Dalam mengembangkan usahanya, sifatnya sebagai guru tidak luntur. Saat ini dari total karyawan, sekitar 40 persennya adalah mantan siswanya yang setelah lulus langsung bergabung. Bahkan siswanya yang semangat berwirausaha, ada juga yang menjadi rekanan perusahaan Ipung.
“Jadi di sekolah fungsi saya ganda, mengajar dan memotivator mereka untuk menjadi enterpreneur dan menciptakan lapangan kerja,” imbuh Ipung (http://www.sucofindo.co.id).

Ada pula Triyono, Guru SD di Semarang Jawa Tengah yang menggeluti usaha mainan edukatif. Triyono sudah menciptakan dan memproduksi sekitar 180 jenis alat permainan edukatif. Setiap bulan Triyono bisa memproduksi sekitar 120 paket alat permainan edukatif untuk pendidikan anak usia dini (PAUD). Omzetnya rata-rata setiap bulan Rp 75 juta. Mengelola usaha tak lantas membuat Triyono menganaktirikan tugas utamanya sebagai guru. Bahkan sejak Juli 2009 dia dipercaya menjadi Kepala Sekolah SDN 3 Kopeng di Kecamatan Getasan (https://wirasmada.wordpress.com).

Selain dua guru hebat yang telah disebutkan, ada pula alumni UPI Kampus Tasikmalaya yang sukses mengembangkan wirausaha dengan tetap berprofesi sebagai guru. Sebut Saja Futri Dewi Patonah (PGSD 2012) yang sekarang mengajar di SD Laboratorium Percontohan UPI Kampus Tasikmalaya, produknya Sundanesia sudah familiar ditelinga kita yang mulanya digagas melalui Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K) dan Program Mahasiswa Wirausha (PMW). Kemudian ada pula Laila Sari Ramadhan (PGPAUD 2013) yang ketika masih menjadi mahasiswa lolos didanai Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) bersama usahanya PUCUK, jasa sewa kostum untuk siswa taman kanak-kanak dan sekarang tengah mengajar di TK IT Ihya Assunnah Kota Tasikmalaya.

Keberhasilan para guru dan alumni UPI Kampus Tasikmalaya ini membuktikan bahwa dengan berwirausaha mahasiswa pendidikan guru dapat meningkatkan kompetensi serta prestasi, juga dapat meningkatkan kesejahteraan perekonomian yang selama ini menjadi polemik profesi guru. Jadi mahasiswa pendidikan guru tak perlu khawatir dengan masa depan pendapatan guru dan berhenti bergantung pada tunjangan maupun sertifikasi, sehingga ketika lulus kuliah dapat menjadi seorang guru yang sepenuhnya mengabdi, tanpa memikirkan gaji.

(Eli Apriyaningsih)







Pelatihan Guru PAUD Se-Kecamatan Gunungtanjung “Meningkatkan Kompetensi Guru PAUD melalui Kegiatan Joyfull Learning”
Gunungtanjung, Senin 13 Agustus 2018 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan Guru PAUD Se-Kecamatan ...
  14/08/2018 | Selengkapnya »
Kubangsari Parenting
Rabu 8 Agustus 2018 kemarin, Mahasiswa Peserta KKN UPI Kampus Tasikmalaya menyelenggarakan ...
  14/08/2018 | Selengkapnya »
Prestasi Angklung TMC di kancah Nasional
Kabar gembira datang dari salah UKM di UPI Kampus Tasikmalaya, tepat 1 ...
  03/05/2018 | Selengkapnya »

Berita Kampus Tasikmalaya

Kegiatan P2M HIMA PGPAUD Hari Kelima
Kelembagaan | 06/08/2018
Kegiatan P2M Hari Keempat
Kelembagaan | 06/08/2018
Kegiatan P2M HIMA PGPAUD hari ketiga
Kelembagaan | 06/08/2018
Kegiatan P2M HIMA PGPAUD Hari Kedua
Kelembagaan | 06/08/2018
Berita Lainnya »

Info & Berita Lainnya

Baca juga Informasi Lainnya di Website UPI Kampus Tasikmalaya

Galery Photo

UPI KAMPUS TASIKMALAYA


BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya 2012 - UPI

BEM REMA UPI Kampus Tasikmalaya 2012

Peserta KKN-PPL di Thailand arrived di Kualalumpur -

Peserta KKN-PPL di Thailand arrived di Kualalumpur