BERITA & TULISAN
Kategori :


Kuliah di Negeri Ayat-Ayat Cinta 2

15/01/2018     Kiprah Alumni         Administrator


oleh Anisa Faqot

Sudah baca novel kang Abik, Ayat-ayat cinta 2 atau mungkin nonton film-nya yang mengharu biru penonton itu?

Yaps bagi kamu yang sudah baca atau nonton ayat-ayat cinta 2 ini, pasti akan akan langsung connect ke suatu negeri di Britania Raya, Inggris, Edinburgh.

Pada tulisan ini, saya akan berbagi hasil bincang maya dengan mahasiswi S3  University of Edinburgh nih, wuih, bukan dengan Hulya atau Fahri ya, its imposible enough, karena kan mereka fiksi ya, saya berkesempatan mewawancarai mahasiswi nyata, seorang muslimah asal bekasi yang introvert garis keras ini memang mengenyam pendidikan S2 dan S3 di Edinburgh setelah sebelumnya lulus dengan baik dari keperawatan UGM.

Hah, kok bisa kenal sama mahasiswi yang kuliah di sana? Ya bisa, kan zaman now, ketika sekat-sekat batas wilayah antar negera sangat samar bahkan tak terlihat, kita bisa berkomunikasi dengan siapapun dimanapun yang kita mau –asal komunikan nya merespon- ya.

Saya cerita dulu, jadi memang ya teman-teman, membaca adalah kunci membuka jendela dunia. Saya tidak menonton filmnya, tapi saya baca bukunya, tuntas di hari keempat, dan sangat terpukau dengan visualisasi Edinburgh oleh tulisan-tulisan kang Abik, iseng-iseng, saya stalkinginvestigate- akun instagram Fahri, eh bukan ding, instagram University of Edinburgh dong, saya ingin mengkomparatifkan hasil imajinasi ketika membaca dengan kondisi nyata universitas tempat Fahri mengajar filologi itu. Dan waw, indah sekali pemandangan nya, rapi. Kang Abik benar-benar ciamik melukiskan Edinburgh pada deretan kalimat dalam buku setebal 600 halaman lebih itu. Nah, saya bertemu mahasiswi Edinburgh asli Indonesia ini pada salah satu postingan akun Univerisity of Edinburgh. Ada seseorang yang berkomentar dalam bahasa Indonesia, saya klik akunnya, mengenalkan diri, saling tukar nomor handphone dan akhirnya berbincang. Ramah sekali.

Ya, mari berkenalan dengan narasumber kita kali ini, seorang Muslimah asal Bekasi, Arcellia Farosyah namanya, saat ini sedang menempuh PhD di The University of Edinburgh (UoE) dengan research interest Emergency Nursing. Teh Arcel ini kuliah PhD di Edinburgh dengan beasiswa yang lagi hits nih di Indonesia, yaps LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Mantap kan? Kuliah gratis di negeri orang, mau tahu kisah dan rahasianya? Scrool ke bawah ya, selamat menikmati.

  1. Literat

Nah, kata ini yang saya tangkap dari jawaban Teh Arcel atas pertanyaan saya : bagaimana kesan kuliah di Edin? Tingkat literasi-nya tinggi, bukan sekadar membaca ,  namun lebih konstruktif dari itu, mahasiswi di UoE ini dituntut untuk banyak membaca, mengkritisi, menganalisis dan menyintesis informasi. Sistem dan budaya pendidikannya sangat konstruktif, karena beda budaya, saya butuh adaptasi, misalnya dalam hal membaca referensi wajib, seringkali saya baru selesai membaca dan menyintesis 3 jurnal, sedangkan teman-teman native sudah selesai 6 hingga 8 jurnal. Tulis Teh Arcel

Wow, tentu saja jurnal Internasional ya, bahasa inggris dengan vocabulary ilmiah yang bisa jadi banyak yang asing di telinga kita. Nah, jadi, untuk teman-teman yang berminat kuliah di negeri ini, siap-siap dari sekarang mengakrabi buku, jurnal-jurnal agar tak kaget saat sampai di sana. Pekerjaan rumah Indonesia dalam hal membaca memang selalu menumpuk ya, negara kita tergelong negara yang sangat rendah minat bacanya.

 

  1. Mantra yang sama dengan Alif di Negeri Lima Menara

Saya percaya, setiap orang punya potensi, hanya saja waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi tersebut berbeda-beda. Sehingga, saya percaya, jika mereka bisa, saya pun pada akhirnya akan bisa, hanya saja butuh waktu dan usaha yang ekstra. –Arcellia Farosyah-

Pernah baca buku Negeri 5 Manara, Ranah 3 Warna, atau Rantau Satu Muara karya penulis  kondang Ahmad Fuadi? Yaps, kita akan disuguhkan pada tiga mantra ‘nutrisi semangat’ dari guru-guru Alif saat di pondok Madani. Man Jadda Wa Jada (siapa yang bersungguh-sungguh, dia kan berhasil), Man Shabara Zafira (siapa yang bersabar, dia beruntung), Man shara a’la dzarbi wa shola (siapa yang berjalan di jalannya, pasti akan sampai). Saat ditanyai tentang motto hidup teh Arcel ini, jawabannya membuat saya tersenyum. “Man Jadda Wa Jada Nis, bukan masalah siapa paling pintar, namun siapa yang paling bersungguh-sungguh.”

Sungguh-sungguh dalam segala hal, dalam merekontruksi niat, senantiasa memperbaruinya agar tidak melenceng, hal yang harus diperhatikan dalam berburu beasiswa adalah Niatnya. Mau apa? Penting sekali karena akan menentukan perjalanan kita nanti, termasuk how to survive and enjoy the journey. Selain itu, sungguh-sungguh dalam berikhtiar, berdoa, memasrahkan semua hasil ikhtiar kita hanya ke Allah saja. pokoknya, yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil. Man jadda wajada.

 

  1. Bukan sekadar konsisten, namun persisten

Dalam tulisannya yang berjudul Sisi afektif Pemburu Beasiswa (bisa di chek di arcelfarosy.tumblr.com), di antara hal penting dalam berburu beasiswa adalah konsistensi, persistensi, ketahanan fisik, dan kesabaran. Selama kuliah kita bisa melatih keempat aspek ini salah satunya dengan kegiatan muncak  atau naik gunung. Karena Muncak akan sangat melatih hal-hal ini.

Misalnya, kita ingin belajar TOEFL, kita luangkan waktu dalam satu hari minimal satu jam untuk belajar TOEFL, kita lakukan hal ini setiap hari, konsisten. setelah target TOEFL tercapai, usahakan kita tak berhenti belajar, tetap latihan bahasa inggris yang lain, persisten, agar ilmu yang telah kita dapat dari konsistensi belajar tidak luntur ketika suatu saat akan dipakai.

Konsisten adalah awalan, persisten yang membuat kita bertahan –Arcellia Farosyah-

 

  1. Libatkan Allah

Hal yang paling membuat saya kagum adalah prinsip hidup Teh Arcel dalam meraih semua pencapaiannya saat ini. Ya, melibatkan Allah. Seperti judul blog ini. Hihihiy.

Karena memang sejatinya, sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, mendekatkan si pencari ilmu pada Sang Maha Pemberi ilmu. Allah Subhanahu wata’ala.  Masih dalam tulisan yang sama, Sisi Afektif Pemburu Beasiswa karya Arcellia Farosyah ini, ditulisaknnya bahwa salah satu hal terpenting untuk pemburu beasiswa adalah belajar ilmu agama. Tuturnya begini kita harus menyadari bahwa, sehebat-hebatnya kita, sebaik-baiknya rencana yang kita buat, ada kuasa yang lebih hebat dari itu semua.  Dengan belajar ilmu agama, kita menjadikan diri ini kuat atas izin Allah, menyadari bahwa hakikat semua perjuangan ini adalah ikhtiar mendekatkan diri ke Allah, libatkan Allah, maka tak ada yang terlalu sulit untuk kita raih.

Supaya kita tidak terlalu bersedih dengan apa yang luput dari kita pun tidak menyombongkan diri terhadap apa yang kita dapatkan. Lanjut Teh Arcel.

 

Nah, sekian cerita Teh Arcellia Farosyah ini, muslimah asal Bekasi yang merantau ke negerinya Aisyah dan Fahri.  Semoga mengispirasi.

 

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…  –QS. Ath-Thalaq ayat 2 dan 3-







E-learning dalam PAUD
Bandung, Jumat, 21 September 2018 Kepala dan Guru TK Labschool UPI Kampus ...
  26/09/2018 | Selengkapnya »
Pelatihan Guru PAUD Se-Kecamatan Gunungtanjung “Meningkatkan Kompetensi Guru PAUD melalui Kegiatan Joyfull Learning”
Gunungtanjung, Senin 13 Agustus 2018 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan Guru PAUD Se-Kecamatan ...
  14/08/2018 | Selengkapnya »
Kubangsari Parenting
Rabu 8 Agustus 2018 kemarin, Mahasiswa Peserta KKN UPI Kampus Tasikmalaya menyelenggarakan ...
  14/08/2018 | Selengkapnya »

Berita Kampus Tasikmalaya

World Cleanup Day 2018 Tasikmalaya
Kelembagaan | 17/09/2018
Satu Hari Bersama Prodi PGPAUD
Kelembagaan | 04/09/2018
Satu Hari Bersama Prodi PGSD
Kelembagaan | 04/09/2018
Berita Lainnya »

Info & Berita Lainnya

Baca juga Informasi Lainnya di Website UPI Kampus Tasikmalaya

Galery Photo

UPI KAMPUS TASIKMALAYA


MOKA-KU UPI Kampus Tasikmalaya - UPI

MOKA-KU UPI Kampus Tasikmalaya

Festival Kaulinan Barudak - Kemahasiswaan

Festival Kaulinan Barudak