Tasikmalaya, 10 Juli 2025 – Tugas utama dosen melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni melaksanakan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sejalan Sejalan dengan komitmen tersebut serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang Quality Education, tim dosen PGSD UPI Kampus Tasikmalaya melaksanakan Urun-Bina Etnoliterasi kepada Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya pada hari Kamis tanggal 10 Juli 2025. Kegiatan tersebut diselenggarakan di SN Negeri 2 Sukamaju dengan dihadiri perwakilan guru dan kepala sekolah berjumlah 40 guru dan 10 kepala sekolah se-Kecamatan Indihiang. Urun-Bina tersebut difokuskan kepada pelatihan literasi baca-tulis dan numerasi melalui pendekatan etnoliterasi.


Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber. Prof. Dr. Karlimah, M.Pd. sebagai narasumber pertama memaparsajikan perihal “Keterampilan dan Disposisi Matematika dalam Permainan Simar”. Adapun Dr. Dian Indihadi, M.Pd. sebagai narasumber kedua memaparsajikan perihal “Kesalahan Berbahasa dalam Konteks Literasi Baca Tulis dan Numerasi”. Area isi sajian tersebut ditujukan untuk memberdayakan peran guru dan kepala sekolah dasar dalam meningkatkan keberhasilan kedudukan dan fungsi literasi melalui etnoliterasi dari tahap pengetahuan, sikap serta keterampilan. Untuk itu, mereka harus berhasil dalam merumuskan ontology, epistemology, aksiologi dan metodologi keliterasian berdasarkan sensasi (pemberdayaan panca Indera) dan persepsi (penafsiran di luar Indera) perihal seatu fenomena (aktivitas, ruang dan waktu) sesuai dengan skemata (wilayah mental tempat mengorganisasikan dan menstrukturkan pengetahuan maupun pengalaman interaksi manusia).
Kedua materi ini ditujukan untuk memberdayakan guru dan kepala sekolah dasar dalam meningkatkan keberhasilan pendidikan literasi melalui pendekatan etnoliterasi, mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hal ini juga sejalan dengan tujuan SDGs lainnya, seperti SDG 10 (Reduced Inequalities) dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi transformasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.


Respon positif terhadap kegiatan tersebut ditujukkan guru dan kepala sekolah melalui partisipasi dan produktivitas mereka seluruh tahap kegiatan. Budiman, M.Pd., selaku Kepala Sekolah Dasar 2 Sukamaju menyatakan “terimakasih dan harapan urun-bina seperti ini masih berkelanjutan di masa datang”. Semoga masalah CLBK (Cara Lama Berulang Kembali) dalam literasi dapat disolusikan. Disposisi permaninan “SIMAR” dan Strategi “AKU BIA TIA ANAK BAIK” (AKU = Analisis Kutip Uraikan; BIA= Baca Identifikasi Analogikan; TIA = Tunjukan Identifikasi Analogikan; ANAK = Ambil Namai Analisis Komunikasikan; BAIK = Bahas Analisis Interpretasikan Komunikasi) dijadikan alternatif Solusi masalah CLBK dalam etnoliterasi. Kegiatan pengabdian ini bukan hanya memperkuat kapasitas guru secara profesional, tetapi juga menjadi kontribusi nyata UPI Kampus Tasikmalaya dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) melalui dunia pendidikan. (Dian Indihadi/HAZ)


