UPI Kampus Tasikmalaya dan UiTM Malaysia Satukan Sains, Budaya, dan Teknologi dalam Rangkaian Workshop Academic Exchange

Tasikmalaya, 14 September 2026 — Puluhan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya mengikuti rangkaian workshop yang digelar setelah seremoni pembukaan International Visiting Scholar and Academic Exchange Program bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia, di UPI Kampus Tasikmalaya, Senin (14/9/2026). Tiga sesi workshop berlangsung berurutan sejak pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, diselingi waktu istirahat, membawa peserta dari pemecahan masalah berbasis sains, penjelajahan pengetahuan tradisional, hingga eksperimen dengan teknologi kecerdasan buatan.

Mahasiswa UPI Kampus Tasikmalaya dan rombongan UiTM Malaysia berfoto bersama usai mengikuti rangkaian workshop International Visiting Scholar and Academic Exchange Program, Senin (14/9/2026).

Workshop pertama, STEM 21st-Century Skills: Guideline and Practice, berlangsung pukul 10.00–11.00 WIB dan diikuti oleh 20 mahasiswa UPI. Sesi ini dipandu oleh Muhammad Farhan Herman, yang mengajak peserta bekerja dalam kelompok kecil untuk mengenali dan merespons persoalan nyata melalui pendekatan sains. Peserta diajak menerapkan metode Think, Pair, and Share sembari membahas keterampilan abad ke-21 yang relevan bagi calon guru maupun guru yang sudah mengajar. Farhan turut menekankan pentingnya kepekaan terhadap kondisi belajar siswa, misalnya dengan mengajukan pertanyaan spontan namun tetap relevan untuk mengembalikan perhatian siswa yang mulai bosan di tengah pembelajaran.

Muhammad Farhan Herman memandu workshop STEM 21st-Century Skills: Guideline and Practice dengan metode Think, Pair, and Share.

Mahasiswa UPI duduk melingkar berdiskusi dalam kelompok kecil untuk merespons persoalan yang diberikan pada workshop STEM 21st-Century Skills.

Kegiatan kedua, Ethno-STEM Module for Sustainability: Exploring Traditional Fermentation through Science & Culture, berlangsung pukul 11.00–12.00 WIB dengan diikuti 15 hingga 30 mahasiswa UPI dan dipandu oleh Muhammad Zariff Mohd Zaharuddin. Sesi ini mengajak peserta melihat sains dari sudut pengetahuan lokal Indonesia melalui konsep fermentasi pada makanan tradisional, memperlihatkan bahwa sains tidak berdiri sendiri, melainkan dapat dipelajari melalui budaya dan kearifan lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Muhammad Zariff Mohd Zaharuddin memandu workshop Ethno-STEM Module for Sustainability: Exploring Traditional Fermentation through Science & Culture.

Setelah waktu istirahat, workshop ketiga, Creating AI-Enhanced STEM Experiences: Using Gen AI and Google AR for Integrated Learning, digelar pukul 13.00–14.00 WIB dan dipandu bersama oleh keempat mahasiswa UiTM Malaysia, yaitu Muhammad Zariff Mohd Zaharuddin, Muhammad Farhan Herman, Nur Shahaszadatul Natasya Shahibul Baharin, dan Syamimi Syamilah Rozali. Mahasiswa UPI yang mengikuti sesi ini memanfaatkan kecerdasan buatan generatif dan augmented reality untuk memperkaya cara materi pembelajaran disajikan. Salah satu contoh konkret terlihat ketika peserta menggunakan fitur pencarian visual pada gawai untuk menampilkan objek tiga dimensi seekor harimau Benggala secara augmented reality, lalu berinteraksi dan berfoto bersama objek tersebut. Pada akhir sesi, sejumlah kelompok peserta turut menerima apresiasi dari perwakilan UiTM Malaysia atas kreativitas mereka dalam memanfaatkan objek augmented reality tersebut.

Keempat mahasiswa UiTM Malaysia memandu bersama sesi Creating AI-Enhanced STEM Experiences: Using Gen AI and Google AR for Integrated Learning.

Mahasiswa UPI menampilkan objek augmented reality seekor harimau Benggala pada sesi Creating AI-Enhanced STEM Experiences.

Salah satu kelompok peserta menerima cinderamata dari perwakilan UiTM Malaysia sebagai apresiasi atas kreativitas mereka pada sesi Creating AI-Enhanced STEM Experiences.

Kelompok peserta lainnya turut menerima apresiasi serupa atas partisipasi aktif mereka dalam sesi Creating AI-Enhanced STEM Experiences.

Ketiga workshop tersebut saling terhubung dalam satu alur pembelajaran yang utuh. STEM 21st-Century Skills melatih peserta mengenali dan memecahkan persoalan nyata; Ethno-STEM menunjukkan bahwa sains dapat dipelajari melalui budaya dan pengetahuan lokal; sementara Generative AI dan Google AR memperlihatkan bagaimana teknologi dapat memperkaya cara materi tersebut disampaikan dan divisualisasikan. Ketiganya bersama-sama menggambarkan bagaimana pembelajaran dapat dikembangkan dengan memaksimalkan pengetahuan, lingkungan, budaya, kreativitas, dan teknologi yang tersedia di sekitar peserta didik.

Rangkaian workshop ini merupakan bagian dari tema besar International Visiting Scholar and Academic Exchange Program, yakni Strengthening Global Collaboration in Elementary Education, Research, and Innovation between UiTM and UPI Kampus Tasikmalaya. Kegiatan ini juga berkaitan dengan dua tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs): SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena peserta memperoleh pengalaman belajar lintas negara yang memperkaya keterampilan mengajar, dan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena kegiatan ini terwujud melalui kerja sama akademik antara UPI Kampus Tasikmalaya dan UiTM Malaysia.

Ketiga sesi workshop ini dipandu langsung oleh mahasiswa program magister (S2) UiTM Malaysia yang tergabung dalam rombongan academic exchange, menghadirkan pengalaman belajar yang dipandu langsung oleh sesama mahasiswa lintas negara. Melalui rangkaian kegiatan yang berlangsung di bawah payung Diktisaintek Berdampak ini, UPI Kampus Tasikmalaya dan UiTM Malaysia memperluas ruang kolaborasi akademik di bidang pendidikan dasar, penelitian, dan inovasi pembelajaran berbasis sains dan teknologi.Tim Humas Kampus UPI Tasikmalaya