Sesi pembelajaran di kelas dengan Para Pelaku Creator Economy dari Indonesia
Tasikmalaya – Program Studi Bisnis Digital Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil menorehkan capaian baru melalui implementasi metaverse-based learning di platform Second Life. Kegiatan ini dipimpin oleh Btari Mariska Purwaamijaya, S.H., M.M. selaku dosen ketua sekaligus penggagas program. Program ini juga didukung oleh anggota tim, yaitu Muhammad Dzikri Ar Ridlo, S.Ds., M.Ds., Muhammad Rizki Nugraha, S.Pd., M.T., serta berada di bawah pengawasan langsung Dr. Adi Prehanto, S.S., M.Pd. selaku PiC Kurikulum dan Asep Nuryadin, S.Pd., M.Ed., lulusan Monash University dengan kompetensi pembelajaran digital. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi mahasiswa, di antaranya Hanif Ksatria Faza (Mahasiswa tugas akhir yang akan lulus melalui jalur artikel), serta melibatkan Muhammad Rijal Fathurrahman, S.Kom., M.S.M., periset dan pengguna aktif Metaverse sejak 2009. Langkah inovatif ini tidak hanya disambut antusias mahasiswa, tetapi juga menarik perhatian masyarakat global. Banyak pihak dari berbagai negara menunjukkan ketertarikan untuk mengenal lebih jauh Prodi Bisnis Digital UPI, bahkan hingga menawarkan diri untuk berdonasi dan berkontribusi pada program berikutnya. “Finally, we have arrived here—UPI’s Digital Business Study Program in Second Life. It has been a long journey of more than a year… With limited funding, I believe this is only the opening gateway for our program and
that it will contribute greatly in the future. We just need to show up and do our best within our capacity; God and the universe will take care of the rest,” ungkap Btari Mariska.
“Saya percaya program ini bukan hanya harus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, tapi juga mampu melindungi mereka yang paling rentan. Mahasiswa yang tidak memiliki perangkat bagus tapi punya skill dan motivasi luar biasa harus tetap diberikan kesempatan dengan dukungan infrastruktur yang memadai,” tambahnya. Sebagai bentuk komitmen, Prodi Bisnis Digital UPI menegaskan bahwa tujuan program ini bukan sekadar menjual jasa pendidikan, melainkan memastikan para alumni dapat terus terbuka terhadap wawasan baru, menemukan peluang, menciptakan peluang baru, serta bersaing di kancah global. Ke depan, tindak lanjut dari program ini akan diarahkan pada kerja sama resmi dengan Linden Lab selaku pengembang Second Life. Selain itu, Prodi Bisnis Digital UPI juga memastikan program ini dapat terpublikasi dengan baik, tidak hanya dalam bentuk penelitian akademik, tetapi juga melalui publikasi di media massa nasional maupun internasional, agar gaung inovasi ini semakin luas dirasakan masyarakat. Hands-On Learning di Metaverse: Mempersiapkan Mahasiswa Digital Business untuk Tantangan Global


Sesi hands on practice
Dalam implementasinya, mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga terjun langsung melalui praktik hands-on membangun dunia virtual. Mereka mempelajari basic building, animasi, scripting, hingga mengunjungi toko para kreator dan laboratorium Internet of Things (IoT) di Metaverse. Respon mahasiswa penuh antusias, terbukti dengan lahirnya karya-karya 3D hasil kreativitas mereka. Btari menegaskan, pengalaman belajar ini menjadi pembuka pandangan baru (point of view) untuk Prodi Bisnis Digital. Namun, ia juga menyampaikan adanya tantangan berupa keterbatasan perangkat dan akses internet yang dimiliki mahasiswa. Untuk itu, dukungan UPI dan peluang hibah di masa depan sangat dibutuhkan agar keberlanjutan program ini terjamin.
Keadilan dan Kesempatan: Prioritas dalam Kebijakan Pendidikan Digital Prodi Bisnis Digital UPI

Mahasiswa melakukan hands on practice di Metaverse
Btari menyampaikan bahwa tantangan ekonomi global menjadi dorongan utama bagi inovasi ini: “In this economy, dengan keterserapan SDM dan lapangan kerja yang terbatas, kita sudah mulai harus mengarahkan mahasiswa berpikir global bahwa skill mereka bisa menghasilkan economic value. Mereka tidak bergantung pada lapangan pekerjaan, tapi bahkan bisa menciptakan lapangan kerja baru. Metaverse ini adalah salah satu solusinya. Kami siap mengeluarkan hasil riset kami agar seluruh kurikulum dan kebijakan bergerak ke arah sana. Jika sebelumnya lulusan Prodi Bisnis Digital baru mampu mencapai Marketing 4.0, maka kami optimis bisa mengejar hingga Marketing 6.0,” jelasnya. Btari juga menekankan pentingnya keadilan distributif dalam setiap kebijakan pendidikan digital.
Komitmen Bisnis Digital UPI: Pendidikan Inklusif dan Siap Menjadi Bagian dari Jaringan Kelas Virtual Internasional

Sesi hands on practice
“Saya percaya program ini bukan hanya harus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, tapi juga mampu melindungi mereka yang paling rentan. Mahasiswa yang tidak memiliki perangkat bagus tapi punya skill dan motivasi luar biasa harus tetap diberikan kesempatan dengan dukungan infrastruktur yang memadai,” tambahnya. Sebagai bentuk komitmen, Prodi Bisnis Digital UPI menegaskan bahwa tujuan program ini bukan sekadar menjual jasa pendidikan, melainkan memastikan para alumni dapat terus terbuka terhadap wawasan baru, menemukan peluang, menciptakan peluang baru, serta bersaing di kancah global. Ke depan, tindak lanjut dari program ini akan diarahkan pada kerja sama resmi dengan Linden Lab selaku pengembang Second Life. Selain itu, Prodi Bisnis Digital UPI juga memastikan
program ini dapat terpublikasi dengan baik, tidak hanya dalam bentuk penelitian akademik, tetapi juga melalui publikasi di media massa nasional maupun internasional, agar gaung inovasi ini semakin luas dirasakan masyarakat.
Dr. Adam Hermawan, S.I.Kom., MBA, selaku Ketua Program Studi Bisnis Digital, turut memberikan dukungan penuh. Ia meyakini bahwa para dosen di Prodi Bisnis Digital memiliki kompetensi, motivasi, dan value yang sama dalam membangun arah baru pendidikan digital. “Program ini memang ambisius, tetapi kami yakin dapat diwujudkan dengan kolaborasi dosen dan mahasiswa. Namun demikian, keberlanjutan program ini tentu memerlukan dukungan yang lebih luas dari seluruh stakeholders agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ungkapnya. Kegiatan ini juga sejalan dengan berbagai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya poin 4 (Pendidikan Berkualitas), 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), 10 (Mengurangi Ketimpangan), 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Metaverse-based learning sendiri bukan hal asing di dunia pendidikan global. Sejumlah universitas ternama seperti Harvard, MIT, Stanford, Oxford, hingga Liverpool telah lama mengeksplorasi Second Life sebagai sarana pendidikan. Kini, UPI turut hadir dalam jaringan kelas virtual internasional tersebut dengan membawa semangat baru dari Indonesia.
Dengan semangat kolaborasi, kreativitas mahasiswa, dan dukungan dosen, Prodi Bisnis Digital UPI optimistis bahwa program ini akan menjadi tonggak penting dalam transformasi pendidikan digital sekaligus membuka ruang lebih luas untuk keterlibatan global di masa mendatang. (BPA/TP)


