Shah Alam, Malaysia – Selasa, 29 Juli 2025
Tawa riang anak-anak menggema di halaman TASKA-TADIKA KIDANA, saat mereka larut dalam warna, kreativitas, dan semangat menjaga bumi. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Eco-Batik: Fun and Creative Learning through Sustainable Art” bukan sekadar sesi mewarnai biasa—melainkan langkah kecil yang mengakar kuat pada semangat quality education dan climate action sejak usia dini.
Sebanyak 15 anak terlibat aktif dalam kegiatan ini, didampingi para guru dan fasilitator. Kegiatan dibuka dengan penjelasan menarik mengenai konsep Eco-Batik dari dua narasumber: Aini Loita, M.Pd., dan Budi Iskandar, S.Si., M.Pd. Mereka memperkenalkan kepada anak-anak bahwa seni bisa dilakukan secara menyenangkan sekaligus berkelanjutan—menggunakan bahan alami, media ramah lingkungan, serta memperkuat kesadaran terhadap responsible consumption and production.

“Anak-anak tidak hanya belajar menggambar atau memberi warna, tetapi juga mengenal bagaimana menjaga alam melalui kegiatan sederhana. Ini adalah bentuk nyata dari education for sustainability,” ujar Aini dengan penuh semangat.
Dengan pewarna alami dan kain ramah lingkungan, setiap anak diberi kesempatan mengekspresikan diri. Hasilnya? Corak batik penuh warna dan makna, lahir dari tangan-tangan kecil yang mulai paham pentingnya hidup berdampingan dengan alam.
Budi Iskandar menekankan bahwa selain aspek seni, kegiatan ini juga memperkuat early childhood development dan lifelong learning. “Kreativitas dan kesadaran lingkungan tidak bisa dipisahkan dalam pendidikan anak usia dini. Ini adalah fondasi penting untuk generasi yang peduli dan bertanggung jawab,” katanya.
Sepanjang kegiatan, suasana terlihat sangat inklusif dan mendukung perkembangan emosional serta sosial anak—selaras dengan SDG 4 yang mendorong inclusive and equitable quality education. Guru-guru mendampingi dengan hangat, memberi ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dan menumbuhkan kepercayaan diri.

Program ini merupakan bagian dari rangkaian kolaborasi internasional antara dosen dari Indonesia dan Malaysia, menunjukkan semangat global partnership (SDG 17) dalam memperkuat praktik pendidikan yang inovatif dan berbasis nilai-nilai berkelanjutan.
Diharapkan, kegiatan semacam ini dapat menginspirasi lebih banyak lembaga pendidikan anak usia dini untuk mengintegrasikan seni, lingkungan, dan pendekatan edukatif holistik dalam pembelajaran. Karena dari langkah kecil dan coretan warna, kita bisa membangun generasi masa depan yang lebih sadar, kreatif, dan bertanggung jawab terhadap planet ini. (RAF)


