Pelatihan Inovatif Guru: SDN Nagarawangi Jadi Pusat Transformasi Evaluasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Berkualitas SDGs 4

Tasikmalaya, 7 Juli 2025 — Kompleks SDN Nagarawangi menjadi saksi lahirnya semangat baru dalam dunia pendidikan dasar. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Inovatif dalam Evaluasi Pembelajaran: Meningkatkan Akurasi dan Objektivitas Penilaian”, para guru dari berbagai latar belakang berkumpul untuk menata ulang cara mereka menilai proses belajar siswa dengan pendekatan yang lebih adil dan terukur.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 30 Juni 2025 ini digagas oleh tim akademisi Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Tasikmalaya dengan anggota Rifqy Muhammad Hamzah, M.Pd., Tb. Moh. Irma Ari Irawan, M.Pd., Muhammad Dzikri Ar-Ridlo, serta tim mahasiswa Resi Rahmawati, Riyani, dan Firyal Aulia Rais. Fakta bahwa masih banyak guru yang kesulitan melaksanakan evaluasi secara objektif mendorong lahirnya kegiatan pengabdian ini.

Pemateri utama, Rifqy Muhammad Hamzah, M.Pd., menegaskan bahwa evaluasi merupakan jantung dari proses pembelajaran yang bermakna. “Penilaian bukan sekadar angka. Ia harus mampu merefleksikan proses berpikir, perkembangan karakter, dan potensi siswa secara utuh,” ujarnya dalam sesi pembukaan.

Lebih lanjut, Rifqy menambahkan, “Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa transformasi penilaian juga bagian dari kontribusi nyata terhadap SDGs poin 4: Pendidikan Berkualitas. Guru yang mampu melakukan evaluasi dengan adil dan inklusif berarti telah mendukung tujuan global untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang layak, tanpa diskriminasi, serta sesuai potensi masing-masing.”

Selama pelatihan intensif, para peserta diajak mengeksplorasi berbagai pendekatan evaluasi yang inovatif, mulai dari penggunaan rubrik kinerja, asesmen formatif berbasis proyek, teknik observasi reflektif yang mendalam, hingga pemanfaatan teknologi digital. Tidak hanya teori, pelatihan ini juga menghadirkan simulasi langsung, studi kasus, dan praktik penyusunan instrumen penilaian yang kontekstual dan inklusif.

Salah satu momen berkesan adalah ketika guru-guru merancang instrumen penilaian secara kreatif, menghiasnya secara artistik sehingga menghadirkan suasana pelatihan yang interaktif dan bermakna. “Saya baru sadar bahwa penilaian bisa sangat humanis. Kita bisa melihat anak bukan hanya dari jawaban benar-salah, tapi dari cara mereka mengekspresikan pemahaman,” ungkap salah satu peserta.

Kegiatan ini juga menghasilkan rancangan awal instrumen evaluasi pembelajaran yang akan diuji coba di beberapa kelas. Instrumen tersebut dirancang agar dapat digunakan guru secara fleksibel dengan tetap berpegang pada prinsip akurasi, objektivitas, keberlanjutan, serta berpihak pada perkembangan siswa.

Di akhir kegiatan, para peserta tidak hanya membawa pulang materi pelatihan, tetapi juga paradigma baru tentang bagaimana menjadi pendidik yang reflektif, transformatif, dan berorientasi pada masa depan.

Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya pada target meningkatkan kualitas guru, mengembangkan metode pembelajaran yang inklusif, serta memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan belajar yang adil. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini menjadi bukti bahwa upaya pencapaian SDGs dapat dimulai dari sekolah dasar, dari ruang kelas sederhana, dan dari komunitas pendidikan yang memiliki komitmen untuk berubah.

Di kompleks SDN Nagarawangi, transformasi pendidikan bukan lagi sekadar wacana global, tetapi sudah mewujud nyata dalam praktik sehari-hari. Perubahan kecil yang dimulai dari guru dan sekolah di daerah menjadi langkah besar menuju tercapainya pendidikan berkualitas untuk semua. (HAZ)