Perkuat Literasi Kesehatan, Mahasiswa PGSD UPI Kampus Tasikmalaya Ikuti Kuliah Umum tentang Pancasila dan Dampak HIV/HPV

Dr. Rusani Jaelani, M.Pd., menyampaikan sambutan dalam kegiatan Kuliah Umum.

Tasikmalaya, 28 Oktober 2026 — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI Kampus Tasikmalaya mengikuti kegiatan Kuliah Umum bertema “Pancasila sebagai Sumber Etika dalam Penguatan Sosial Kesehatan: Dampak HIV/HPV di Lingkungan Masyarakat”. Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 13.00 WIB sampai selesai di Ballroom Lantai 5 Gedung C – Dewi Sartika, UPI Kampus Tasikmalaya. Kuliah umum ini menghadirkan Dr. H. Arif Prianto, S.Kep., Ners., M.Si., sebagai narasumber dan diikuti oleh mahasiswa dengan antusias.

Kegiatan diawali dengan sambutan dosen pengampu, Dr. Rusani Jaelani, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pembangunan manusia berkaitan erat dengan tiga aspek utama, yaitu pendidikan, kesehatan, dan standar hidup atau kesejahteraan masyarakat. Ketiga aspek tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas kehidupan masyarakat.

Beliau juga mengingatkan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki peran dan tanggung jawab sosial. Mahasiswa diharapkan tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga mempersiapkan diri agar mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Selain itu, kesehatan perlu dijaga sejak dini karena merupakan hal yang sangat berharga.

Dalam sambutannya, Dr. Rusani turut menekankan pentingnya pengetahuan dan pemahaman mengenai informasi kesehatan, termasuk program vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan. Mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas serta program pelayanan kesehatan yang tersedia sesuai ketentuan, menjaga diri, dan menggunakan informasi secara bijak berdasarkan sumber yang jelas.

Suasana kegiatan Kuliah Umum dengan narasumber dan moderator di depan banner kegiatan.

Materi utama disampaikan oleh Dr. H. Arif Prianto, S.Kep., Ners., M.Si., yang membahas hubungan nilai-nilai Pancasila dengan etika kesehatan masyarakat, khususnya dalam memahami HIV, AIDS, dan HPV. Narasumber menjelaskan bahwa Pancasila dapat menjadi landasan etika dalam membangun pelayanan kesehatan yang menghargai martabat manusia, mengutamakan keadilan, serta menghindari stigma dan diskriminasi.

Pada pemaparan materi, narasumber menjelaskan perbedaan HIV, AIDS, dan HPV. HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS merupakan kondisi atau stadium lanjut akibat infeksi HIV. Sementara itu, HPV adalah kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit dan membran mukosa; beberapa jenis HPV dapat menyebabkan kutil maupun kanker tertentu.

Dr. H. Arif Prianto, S.Kep., Ners., M.Si., menyampaikan materi kepada peserta Kuliah Umum.

Narasumber juga memaparkan kelompok kunci dan kelompok berisiko HIV, AIDS, dan HPV, serta menjelaskan penularan, pencegahan, dan pengobatan. Dalam materi tersebut disampaikan pentingnya pemeriksaan kesehatan, penggunaan alat suntik steril, pemanfaatan layanan kesehatan, terapi antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV sesuai arahan tenaga kesehatan, vaksinasi HPV, dan skrining kesehatan.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, HIV dan HPV dapat berpengaruh terhadap kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi seseorang. Oleh karena itu, narasumber mengajak peserta untuk menghentikan stigma dan diskriminasi. Orang yang hidup dengan HIV tetap memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial tanpa perlakuan diskriminatif. Masyarakat juga perlu memahami fakta kesehatan dengan benar agar tidak menyebarkan mitos atau informasi yang keliru.

Pembahasan selanjutnya menyoroti Pancasila sebagai landasan etika kesehatan, meliputi ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan melalui musyawarah, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap empati, solidaritas, gotong royong, partisipasi masyarakat, dan pemberian akses layanan kesehatan yang setara.

Narasumber turut menjelaskan pentingnya gotong royong dalam pencegahan HIV/HPV yang melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga dan masyarakat, serta kampus dan sekolah. Mahasiswa PGSD juga memiliki peran sebagai agen perubahan, antara lain dengan membangun lingkungan sekolah yang sehat dan inklusif, mengajarkan perilaku hidup sehat sesuai usia anak, mengembangkan empati, mencegah perundungan dan diskriminasi, serta menjaga privasi siswa dan keluarganya.

Salah seorang peserta mengajukan pertanyaan pada sesi diskusi dan tanya jawab.

Pada sesi diskusi, narasumber memberikan contoh situasi seorang siswa yang dijauhi teman-temannya setelah diketahui bahwa salah satu anggota keluarganya hidup dengan HIV. Melalui contoh tersebut, peserta diajak memahami sikap yang perlu dilakukan guru, yaitu memberikan edukasi yang benar, meluruskan informasi keliru, mendukung siswa yang terdampak, menjaga kerahasiaan informasi pribadi, melibatkan pihak terkait, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan tidak diskriminatif.

Narasumber menegaskan bahwa guru bukan hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter. Karena itu, calon guru perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, empati, dan kemanusiaan agar mampu menciptakan lingkungan belajar yang sehat, inklusif, dan berkeadilan.

Kegiatan Kuliah Umum ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan mahasiswa mengenai pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial, khususnya pada bidang kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan kesehatan secara bijak, menjaga sikap empati, serta berperan dalam mengurangi stigma dan diskriminasi di lingkungan masyarakat maupun pendidikan.

 

 

Tim Humas UPI Tasikmalaya